Salam Literasi.
“Kamu suka matematika?”
Pertanyaan itu sering membuat orang berpikir. Ada yang langsung menggeleng. Ada yang tertawa kecil sambil berkata, “Asal jangan suruh hitung pecahan!” Tapi pernahkah kamu sadar, meskipun kita tak mengakuinya, kita semua sebenarnya... pengguna matematika?
Berikut satu cerita pendek tentang matematika kehidupan.
Angka di Balik Nasi Goreng Pak Udin
Udara malam di gang sempit itu selalu mengandung aroma khas. Campuran kecap manis yang terbakar, suara wajan mendesis, dan tawa kecil dari para pelanggan yang menunggu di bawah lampu neon tua. Di antara riuh itu, seorang gadis muda duduk sendiri di bangku kayu, menatap ke halaman kecil di pojok buku catatannya.
Namanya Fara. Rambutnya dikuncir sederhana, wajahnya tampak lelah tapi matanya hidup—mata yang menyimpan rasa ingin tahu yang dalam tentang dunia, bahkan tentang hal-hal yang paling biasa.
Warung kaki lima itu milik Pak Udin, pria paruh baya dengan wajah yang hangat seperti aroma nasi gorengnya. Tak ada yang istimewa dari warung itu, kecuali bahwa ia adalah satu-satunya tempat di mana Fara bisa diam-diam menghitung hidup.
"Pak Udin, malam ini sisa berapa?" tanyanya pelan.
Pak Udin mengangkat bahu. "Entahlah, Ra. Kadang habis, kadang nanggung. Nggak bisa ditebak."
Hening sebentar. Lalu hanya terdengar bunyi spatula menyentuh wajan.
Fara menunduk lagi ke buku catatannya. Ia mencatat: Malam ke-7. Pelanggan 24. Cuaca mendung. Ada pengajian di mushola.
Ia tersenyum. Seolah setiap angka itu bukan sekadar jumlah, tapi perasaan. Seolah dari angka-angka itu ia bisa membaca detak kehidupan kampung ini.
-----
Malam ke-10, Fara membawa grafik batang kecil yang ia gambar sendiri dengan pensil warna. Ia menyodorkannya pada Pak Udin.
"Ini, Pak. Kalau Bapak masak sesuai pola ini, kemungkinan sisa bisa lebih sedikit."
Pak Udin menatapnya lama. Tak berkata apa-apa. Hanya mengambil grafik itu seolah sedang memegang karya seni yang berharga.
"Ra... kamu belajar dari mana ini?"
"Matematika," jawab Fara lirih. "Tapi bukan yang di kelas. Yang dari hidup."
-----
Sejak malam itu, nasi goreng Pak Udin jarang tersisa. Para pelanggan mulai berdatangan lebih cepat karena takut kehabisan. Dan Fara? Ia masih duduk di bangku kayunya, sesekali membantu menakar nasi, menulis angka, atau hanya menatap langit malam.
Di bawah langit yang sama, dua manusia biasa—seorang penjual dan seorang pelajar—telah membuktikan bahwa matematika bisa menjadi bahasa yang paling manusiawi.
Karena kadang, angka-angka kecil yang kita tulis di pinggir buku... bisa mengubah hidup seseorang.
-----
Catatan Reflektif:
Apa yang bisa kamu pelajari dari interaksi Fara dan Pak Udin?
Bagaimana data sederhana bisa membantu pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari?
Jika kamu di posisi Fara, siapa yang ingin kamu bantu dengan ilmu matematika?